Rabu, 22 Juli 2020

Syukur (Semesta Berkata) Eps.2



Dalam ricik gerimis, pria paruh baya itu melanjutkan perjalanan menjajakan dagangannya.  "Took torok tok tok tok , sooo baksoo" teriak pria itu sambil memukul pentongan di tangan kirinya. Terompahnya berkejaran  menyisir rapih jalanan yang mulai gelap nan sepi, matanya sudah tak kuat lagi menahan kantuk yang makin menjadi.  Tetiba saja mobil melaju kencang dari arah kiri nya ketika ia hendak menyebrang perbatasan dan "ciiiiittttttt... guubrakk.." suara tabrakan tak terhentikan  pria itu terlempar beberapa ratus meter dari gerobak nya yang tergeletak tumpah di depan mobil itu. Dan sosok wanita cukup tua dengan penuh barang mewah di sekujur tubuhnya keluar dari mobil tsb.


"Haduhh... lecet nih Expander saya.. hei kalo jalan liat liat dong pak tua. seenak saja main nyebrang gak ngengok kanan kiri. untung mobil saya tidak kenapa kenapa nih. kalo sampe servicenya mahal , saya bakal tun..." belum sempat iblis itu mengoceh, ia terkejut bahwa ia sedang mengomelin mantan suami nya sendiri. Tanpa banyak basa basi lagi, wanita itu buru-buru masuk mobil dan tancap gas meninggalkan pria itu dngn gerobaknya yang masih tersungkur. Pria itu hanya tersenyum haru seraya batinnya berkata "Terimakasih ya tuhan, engkau mendengar doaku slama ini. Semoga ia sadar betapa aku amat mencintainya terlebih pada darah dagingnya yang masih butuh  kasih sayangnya". Tak lama ia bangkit dan membereskan semuanya yang jatuh berantakan lalu beranjak pulang.

Pak Henry biasa disebut pakde disekitar rumahnya, sesuai panggilannya pria paruh baya itu sudah berkepala empat dengan 4 orang anak bersama istrinya yang terakhir pergi meninggalkannya empat tahun silam dengan si bungsu. Anak yang tak berdosa itu harus rela kehilangan kasih sayang ibu nya sedini mungkin. "Ah sudahlah toh hidup adalah perjalanan yang harus kita jalanin dengan penuh rasa syukur dan semangat. Akan aku buktikan si Bungsu dapat tumbuh menjadi anak yang sopan santun dan berhati mulia tanpa kasih sayang ibunya" gerutu Henry berbicara pada bohlam yang sudah lama mati dengan lilin yang turut bersedih membakar habis tubuhnya perlahan.


Hari demi hari Henry lakukan demi si buah hati, menghidupi dirinya dan si bungsu yang semakin besar dan pintar. Tak jarang bungsu jadi bahan bully an karena teman-teman satu kelasnya melihat ayahnya sedang memulung sambil berjualan bakso depan sekolahnya, bungsu tetap bangga. Dilihatnya ayah nya dari kejauhan berlari dan jatuh dipelukan ayahnya sambil tertawa lepas. " Hari ini ayah dapat rezeki lebih, yukk kita beli robot-robotan yang kamu mau" ucap henry menatap bahagia Arie, si bungsu. "Wah benar itu abi? asikk horee beli robot-robotan yang keren ituu ayo abi cepet gasabar nih" teriak Arie senang.

Dua puluh tahun kemudian...

" Baik bapak- bapak, rapat kita telah selesai. Silahkan dapat ke ruangan masing - masing dan kembali bekerja" ujar Pak Hendrik , Direktur Utama Elang Indonesia. Maskapai nomor satu di Indonesia. "Untuk Pak Arie, Selamat atas kenaikan jabatan nya sebagai Kepala Divisi Penerbangannya Pak Arie" ujar nya lagi. "Terimakasih Pak Hendrik, saya pamit pulang " ujar Arie.

Mobil BMW S Class  melaju di tengah ramainya ibukota, menyelinap diantara mobil - mobil disekitarnya lalu berhenti disebuah tempat pemakaman umum yang tak jauh dari lokasi kantornya. Sang asissten membukakan pintu mobil lalu membuka payung , dengan gagah Arie merapihkan jasnya lalu berjalan menuju tempat peristirahatan sang abi tercinta.

"Abi, Terimakasih atas segala jerihpayahmu yang kini aku rindukan akan kehadiran dirim, abi. Lihatlah abi aku sudah sukses sekarang berkat semua pengorbananmu. Tolong bangun abi... tolongg... banguunn.... abiiiiiii" Teriak Arie sambil menangis melepaskan semua kerinduan pada ayahnya yang telah tiada, beliau meninggalkannya tepat sehari sebelum hari pengumuman wisuda nya.

Minggu, 20 Oktober 2019

Ketulusan Hati (Semesta Berkata)




Deru ponsel terus bergetar di atas meja kerja Budi yang tengah tertidur setengah jam yang lalu, bukan lain adalah chat whatsapp dari client nya di luar kota untuk menginvest ke perusahaan nya. Malam ini rapat terbuka dilaksanakan disalah satu mall ternama di Jakarta.

Tak lama... Suara dering telfon berbunyi , Budi terbangun. Diangkat telfon itu, anak kesayangannya rindu.

“papa kapan pulang? Hayukk kita beli eskrim bareng. Zahwa mau makan eskrim sama papa”

“sabar ya nak papa masih ada kerjaan lagi, sama mamah aja ya dulu. Nanti papa bawa pulang eskrim yang banyak. Kita makan sama-sama. Okey?”

“asikkkk.... makasi papa... Zahwa sayaang papapa. Dadah  paah. Assalamualaikum”

“iyaa nakk, papah juga sayang Zahwa.. waalaikumussalam” ditutup telfon itu sambil tersenyum. 

Namun, senyum itu hanya muncul sesaat setelah melihat jam pada layar ponselnya. sudah 19.35, ia gelisah. Tertera notif yang sedari tadi belum ia buka, berisi....
19.12 –  Pak Aldi (Client SG) : “Pak Budi, saya sudah sampai bandara. Tolong dipersiapkan semuanya, 15 menit lagi saya akan sampai ke resto tempat meeting kita dimulai”
19.25 – Pak Aldi (Client SG) : “Pak Budi saya sudah sampai di resto. Sesuai rencana , meja nomor 25. Saya tunggu 30 menit lagi”

Tanpa basa-basi, budi mencuci muka lalu mengambil jaz yang tergantung, lalu pergi menuju lokasi 9km dari posisinya sekarang. Melaju dengan kecepatan penuh, diseberang matanya lampu hijau perempatan itu terhitung mundur. Mengejar waktu, Budi menambah kecepatannya hingga tiba-tiba seorang anak laki-laki berlari mengejar bola yang terlempar kejalan. Kaget setengah mati, diinjaknya pedal rem itu dengan kasar.

“Woi bocah , main bola jangan sampai ke jalan. Bahayaa” ujarnya berbicara melewati jendela mobilnya. “ah jadi lampu merah lagi kan. Mana lama banget lagi, sial”cetusnya. Dilihatnya anak laki-laki kecil itu menghampiri dua orang anak perempuan lainnya dengan speaker berukuran sedang menggantung di pundaknya.  Silih berganti Budi menatap jarum jam dan lampu merah. Terdengar samar-samar percakapan antara anak kecil dan kedua anak perempuan persis disamping mobilnya

“dekk, udah dong mainnya. Ayook pulang. Sudah malam... yukk” ajak salah satu anak perempuan 

“gak mauuu.. masih mau main bola. Kak Sari , ayuk main lagii”. “dek, dengerin kak Fia dong. Ayuk pulang kita cari obat untuk mamah sekalian beli makan” ujar Kak Sari. Ekspresi Arman seketika berubah, gelap bak awan hitam siap menerjunkan bala tentara hujannya. Arman mengerti, mamahnya sedang merindukannya, begitupun sebaliknya.

Hari itu pendapatan mereka tak banyak, keluar pagi pulang sore. Bertarung dengan terik matahari , buat mereka tak lupa diri. Bahwa hidup harus terus disyukuri bagaimanapun adanya. Mendengar percakapan mereka , angin rindu hangatnya kasih ibu berhembus kepadanya. Merasa Iba, Budi memanggil ketiga anak itu lalu menawarkan tumpangan untuk pulang menuju rumah mereka dan berniat membelikan obat untuk sang Ibu.

“Mari nak, ikut saya. Saya antar kalian kerumah, sekalian kita beli obat untuk ibu” ujar Budi menawarkan. “Tidak usah om, takut merepotkan” ujar Fia. “oohh tidak, sama sekali tidak. Mari ikut saya...” masuklah mereka kedalam mobil dengan penuh keheranan , dan menuju apotik untuk membeli obatnya.

“Sampai sini aja om , soalnya mobilnya ga bisa masuk. Maklum rumah kami kecil. Mari om..” ujar anak tertua. Mereka berjalan menyusuri rumah demi rumah kawasan kumuh. Dengan menggengam obat , Budi menoleh kanan kiri hiruk pikuk antah berantah dari mana asal suara nya bersaut-sautan. 

“mari om masuk, kita sudah sampai” “baiklah nak. Terimakasih”

Kedua adiknya berlari menghampiri sang ibu yang tengah terbaring lemas di atas kasur robek dan kotor, menangis dan memeluknya sembari berkata “maafkan kami ibu, kami baru bisa pulang... kami rindu ibuu”. Suasana berubah sedih seketika, tak terasa air mata Budi mengalir perlahan. “oh iya om, ini ibu kami.. ibu... ini om baik mau membelikan obat untuk ibu” “permisi ibu... saya Budi , semoga cepat sembuh bukk.. ini ada sedikit rezeki.. tolong di terima ya..” “terimakasih nak budi, ibu terima.. *uhukk uhuuk . maaf hehe”

Budi sedih... tatkala ia melihat ibu dari mereka teringat seorang yang paling berjasa dalam hidupnya slama ini, sudah meningggalkannya genap 5 tahun, ia lupakan. Dalam batinnya ia teriak sambil berdoa “ Yallah tolong luaskan kubur mamah, terangkan kuburnya, berikan ia tempat terbaik disisiMu”.  Entah kenapa, Budi tersadar lalu ikut mereka memeluk ibunya. Deru hujan menyerbu seng diatas rumah kayu lapuk itu temani kehangatan mereka yang mulai menyatu.

Rabu, 04 September 2019

Keajaiban Cinta (eps 4)



Januari 2011
Awan hitam datang berarak bersama angin berkecepatan sedang, tanda langit turut bersedih menemani seorang pria lengkap dengan pakaian serba hitam yang ia kenakan. Meratapi gundukan tanah. Setangkai mawar terhias di sebuah dipan bertuliskan nama sang kasih. Tak sedikit air matanya tumpah, “terimakasih” ucapnya dalam hati. Sambil mengelus rintikan air yang turun dari langit. Hujan datang.

“Arjunaaa... hujan sudah turun. Ayo bergegas” teriakan dari arah belakang mengagetkannya. Sambil mengelap air matanya, pria itu beranjak mendekati mobil lalu pergi dari tempat pemakaman tersebut.
“Sudah lah jun, ikhlaskan. Kita pasti akan menyusulnya nanti. Jangan karena seseorang yang teramat kau cintai, kau lupa akan segalanya.” ujar Airlangga sembari memakan sepotong biskuit, menawarkannya pada Arjuna yang tengah menyetir.
“Mari kita menyusul,ngga. Aku tidak sabar bertemu dengannya. Aku cinta mati dengannya” Arjuna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, melepas selt belt yang ia gunakan.
“KAU SUDAH GILA YA? TURUNKAN LAJU MOBILMU. AKU BELUM MAU MATI SEKARANG” tegas Airlangga menampar pipi Arjuna berharap ia mendengar, tetapi tidak. Kecepatan mobilnya semakin lama semakin cepat. Airlangga mengencangkan sabuk pengaman, untuk pertama kalinya mulut kotor itu penuh dengan istighfar. Arjuna menekan pedal gas semakin kencang, hingga Truk dari arah sebaliknya mendekat dan....
DUAARRR.... suara ledakan terdengar hingga kejauhan. Warga sekitar berlari, mendekati sumber ledakan untuk menolong. Mobil Arjua terguling sebelumnya, lalu terbakar. Airlangga masih setengah sadar melepas sabuk pengaman lalu keluar dengan bantuan warga sekitar. Sedang Arjuna tersenyum lalu melintas kenangan bersama sang kasih.
“Kita hidup bersama, dan mati pun bersama. Aku menyusulmu sayang” hatinya terucap lalu cahaya matanya mulai meredup.

Berkah Sedekah (Semesta Berkata)


       Jam dinding bertedak, menyadarkan lamunan seorang pria tengah duduk di depan etalase sebuah toko furniture. Lima jam sudah toko itu terbuka sejak sang ayam memamerkan suara lengkingnya serta mentari yang mengintip diantara celah-celah gedung metropolitan seberang bangunan tua yang sedang ia duduki.
          Matanya terbelalak, pandangan fokusnya tertuju pada sebuah ruko kecil sepuluh meter depan pelipis matanya. Toko itu selalu ramai pengunjung, tak sedikit juga barangnya laku terjual. Hatinya tak karuan, terlintas prasangka buruk di kepalanya jikalau mereka memakai penglaris dari dukun terkenal di kota seberang. Tak ayal memang sudah puluhan toko di kota seberang memakai jasanya dan alhasil omset penjualan naik bak diskon akhir tahun sahaja, ujarnya dalam hati.
         Merasa curiga, Ferry berjalan menuju ruko itu. Ditengah ramainya pengunjung, ia menguntit proses transaksi, tak ada yang aneh. Meraba barang dagangan, tak ada yang istimewa. Semuanya monoton, tak jauh berbeda atau bahkan ia merasa lebih baik barang dagangannya dibanding toko itu. "Permisi Mas Ferry, ada yang bisa saya bantu mas?" tanya Pak Shodik tersenyum.
          "Eh...Anu.. pak... Tidak ada.." Ferry berlari menjauhi ruko itu dan kembali berdialog dengan lamunan di depan tokonya menunggu pengunjung singgah dan membeli sebarang dua barang miliknya. Seketika otaknya menyanggah. Dizaman serba modern ini masih saja percaya akan hal primitif seperti itu, apalagi dirinya mengenal baik Pak Shodik sebagai pemilik ruko tersebut yang terkenal ramah dan sopan dikalangan masyarakat sekitar.
          "Permisi anak muda, kau punya uang kecil?" "Saya belum makan sedari malam" ujar lelaki tua dengan pakaian lusuh bercak kotor disekitar tubuhnya. Ferry tersadar, "Uang kecil dari hongkong. Liat tuh pak, dagangan saya belum laku sama sekali. Saya saja belum makan dari pagi, pedulikah bapak?" "Cepat pergi sana" ketus Ferry emosinya meluap. Pria tua itu berjalan membelakangi rukonya dengan lesuh dan hilang antah berantah, Ferry tak peduli. Ditatapnya ruko seberang, masih saja ramai.
          Sore menjelang malam tiba, Pak Shodik menutup rukonya dengan wajah penuh syukur. Menyapa Ferry di seberang rukonya. "Mas Ferry, saya duluan ya... Ada urusan yang harus diselesaikan. Assalamua'alaikum" "Wa'alaikumussalam, baik pak. Hati-hati" jawab Ferry menghembuskan segumpal asap rokok dari mulutnya. Jiwanya resah penuh tanya, kemanakah Pak Shodik pergi. Dirinya menduga bahwa prasangkanya benar, ia akan menemui dukun di kota seberang.
          Diam-diam Ferry membuntuti Pak Shodik dari belakang. Mengendap layaknya ninja negeri sakura, membungkam ramainya lalu lintas kota. Sambil membawa kantung plastik berwarna merah besar, Pak Shodik menoleh ke kanan dan kiri. Dilihatnya dua anak pengamen laki-laki tinggi semampai dan wanita kecil dengan tinggi sebahunya duduk di trotoar jalan. Pak Shodik menghampiri lalu memberi dua buah kotak nasi dan air mineral dari kantung plastik yang ia bawa, mereka tersenyum.
          Pak Shodik memeluk mereka seraya berkata "Jangan menyerah ya nak selalu berjuang, agar kalian menjadi saksi betapa lucunya negeri ini. Disaat orang-orang sibuk memilih antara Vans atau Converse dan segala macam barang branded, kalian disini sibuk berjuang makan atau tidaknya hari ini dan tidur dimanakah malam ini. Percayalah, Tuhan punya rencana indah buat kalian. Tetap semangat". Suasana haru menyelimuti mereka, tak lama kemudian anak jalanan lain dari berbagai sudut datang menghampiri, ikut memeluk Pak Shodik.
          Isak tangis memecah tatapan Ferry lima belas meter dibelakang, sekarang ia malu akan dirinya yang tak pernah berbagi rezekinya dengan mereka orang yang tak mengenal siapa keluarganya, ayah ibunya. Orang-orang yang terbuang di tengah megahnya kota. Dalam hatinya berjanji untuk lebih memerhatikan lingkungan sekitar dan lebih peduli dengan sesama.
          Dua minggu kemudian tak ada yang berubah, kecuali Ferry yang kini tak melamun lagi. Dirinya tengah sibuk melayani ratusan omset yang datang saban hari. Berbagai furniture di tokonya habis, begitu juga ruko diseberang. Tak lama, anak jalanan menyerbu tokonya. Terdengar suara terompet dan beberapa donat yang ditumpuk dengan lilin angka 23 simbolik dari umurnya . "Selamat Ulang Tahun Kak Ferry" "Semoga sehat dan selalu menyayangi kita semua" ujar mereka sembari tertawa kecil dihadapannya. "Terima kasih Tuhan" "Terima kasih adik-adik" Ferry tersenyum lalu menatap ruko kecil di seberang, hatinya berkata "Terima kasih banyak, Pak Shodik".


Keajaiban Cinta (eps 3)



Desember Akhir 2010


Setiap negara punya ciri khas merayakan penghujung tahun, termasuk Indonesia. Hang out, bakar-bakar, menyaksikan konser musik akhir tahun lalu bergelut dengan dinginya angin malam,kemanapun asal bersama orang terkasih. Malam hari ini jadi penghujung tahun yang berkesan disetiap insan yang bernyawa, manusia tepatnya. Setelah berbagai tempat mereka jelajahi, tujuan selanjutnya Taman Senra.


Malam ini taman ramai oleh orang-orang yang ingin menyaksikan pesta kembang api sepuluh menit lagi. Dibawah lampu taman tengah malam. Arjuna menyantap eskrim bersama Adiba. Membicarakan tentang masa depan,serta masa-masa indah mereka selama bersama. Suasana hangat terjadi, dunia serasa milik mereka berdua. Tak lama suara kembang api muncul... JDAAR JDAARR JDARR.


“ Selamat tahun baru sayang, hayo apa harapan kamu selama tahun kemarin yang belum terwujud. Kita doa bareng bareng semoga ditahun ini harapan kita terwujud” ujar Arjuna menatap Adiba sejenak, lalu menegadah ke langit malam nan indah.

“Aku... berharap kebahagiaan ini akan terus terjadi selama aku hidup. Bahkan sampai aku mati. Selama aku alami kecelakaan, aku sedih jun. Mereka yang dahulu perhatian dan sayang sama aku, melihat aku yang cacat begini, semua jauhin aku jun. bahkan perhatian orang tua ku semakin jarang aku dapatkan. Aku bersyukur bertemu kamu. di penghujung tahun ini , gak ada harapan lain, selain aku berharap untuk terus bersamamu. Bahkan saat aku mati, aku cinta dan sayang sama kamu sampai mati jun” “Thanks for everything makes me always happy, i love you three thousand” jawab Adiba. Air mata yang sedari tadi ia tahan, mengalir sendiri. Dipeluknya Arjuna, “I love you too ,baby” bisik Arjuna.


Suara kembang api mereda, mereka melepas pelukannya. “yuk pulang udah pagi, nanti dicariin calon mertuaku haha” ujar Arjuna cairkan suasana. “eh btw omw bmw, okwokw itu tadi tiga rebu nya dolar apa rupiah neh. Kalo dolar kan mayan, kalo rupiah pen gue beliin aqua nih. Tenggorokan gue seret, haha” ucap Arjuna sambil tertawa geli. Adiba mencubit pinggang Arjuna sambil tersenyum, “ihhh sakit tau, ntar kalo usus gue mampet gimana ?” “biarin, habis ngeselin... wleee”


Diperjalanan pulang , tak henti hentinya mereka bercanda sambil tertawa. Melewati tiap lampu jalan raya dengan penuh suka cita, namun tiba-tiba Truk pengangkut bbm di jalur sebelah oleng dan menabrak mereka berdua. Kecelakaan tak terhindari , suasana hangat tadi berubah duka seketika. Arjuna bangun dengan penuh darah di lengan dan kakinya, melihat Adiba masih terkapar dengan darah di dahinya. Ia berlari menolong dan teriak histeris.


“AAAADIIBAAAA, BANGUN ADIBAA AYOOO. BANGUUNNN. TOLOOONGG TOLONGGG”  teriak Arjuna sekencang mungkin, berharap ada yang dengar. Satu persatu warga sekitar datang menolong, lima menit kemudian ambulans datang. Sepanjang jalan menuju rumah sakit , Arjuna tak berharap kecuali Adiba kembali seperti keadaan semula.

Sesampainya di ruang UGD, dokter kemudian memeriksanya. Selang dua puluh menit dokter keluar ruangan menghampiri Arjuna yang sedang menangis tertunduk lemas. Dokter dengan wajah sedih, meminta maaf bahwa Adiba tak tertolong karena pendarahaan di otaknya cukup banyak, suster meminta Arjuna mengabarkan pihak keluarga nya untuk segera dimakamkan. Hari ini ialah hal bersejarah bagi hatinya, ia merasa kehilangan terhebat untuk pertama kalinya. Setelah keluarga Adiba datang, Arjuna pamit pulang dan menangis sepanjang jalan.

Jumat, 16 Agustus 2019

Merdeka Atau Mati


       Gemuruh langit bersautan bersama suara tembakan dari tiap sudut negeri ini. Hampir 3 tahun sudah Jepang berkuasa, menjadikan Indonesia negeri damai nan indah menjadi lapang penuh darah. Rakyat Indonesia sudah tentu haus akan kemerdekaan, mereka jadikan merdeka ialah cita-cita besar bangsa Indonesia. Dibekali dengan orang-orang berilmu pengetahuan dan tak luput Kebesaran Tuhan, mereka yakin sebentar lagi Indonesia kan merdeka....
       Sore itu dentuman langit terdengar keras, disaat yang bersamaan Abie pun terkejut. Ditengoklah burung-burung terbang dari arah rumahnya. Ia panik. Bergegas ia tuk pulang dari pantai, membawa dua ikat ikan yang ia dapati tuk makan malamnya nanti. Pikirannya tak karuan, ia khawatir jika suara tembakan itu berasal dari rumahnya dan ternyata... dugaannya benar.
       Abie datang lalu mengumpat dibalik batu besar tak jauh dari rumahnya , Tentara Jepang sedang menginvasi rumah darurat keluarganya, Ayahnya telah lama mati dengan tragis memperjuangkan kemerdekaan ditangan Belanda. Tersisa Kakaknya beserta ibu dan adiknya yang masih balita. Air mata Abie mengalir deras, matanya penuh kebencian. Tangannya mengepal meninju batu besar didepannya ketika melihat kakaknya dibawa oleh tentara Jepang. Ia tahu, jikalau ada wanita yang dibawa, mereka akan menjadikannya pelampiasan nafsu bejat tentara-tentara bajing itu. Sementara jikalau pria, kan ia lampiaskan kekesalannya dengan menganiaya tanpa ampun. Abie menunduk, tak bisa berbuat apa-apa selain diam, diam dan diam.

       "Setiap yang lemah akan ditindas, yang berani melawan akan ditebas. hahahahaha" ujar Kolonel Hamatsu Saida, Pimpinan perang Di Sragen, Jawa Tengah dengan bahasa indonesia nya masih kaku sambil tertawa lepas. " Aku ingin bawa wanita ini, kau setuju kan hei ibu tua jalang?"ujar kolonel menyuruh dua pengawal membawa Maisaroh,Kakak Abie. "kau manis juga, tapi lebih sexy wanita ini, ini anakmu? *plaak Berbeda jauh denganmu tau haha, kau sudah peyot." ujar kolonel kepada Ibu Abie sambil menampar pipi halus yang Abie amat cintai. Abie geram, tangannya mengepal lebih kencang.. "tolong jangan bawa anak saya, bawa saja saya tuan. Tolong jangan ganggu keluarga saya, biarkan saya ikut dengan tuan.. tapi tolong lepaskan anak saya" Ibu Abie menangis berlutut dibawah kaki kolonel bajing itu.
       Tak hiraukan penawaran Ibu, tentara Jepang dengan cepat membawa Maisaroh pergi menjauhi mereka. Ibu menangis kencang memeluk Jaka anak bungsunya. Abie berlari menghampiri mereka, memeluk sang Ibu. "Ibu... maafkan Abie. Abie belum berani melindungi ibu dan kakak. Abie gak bisa jadi anak laki-laki seperti ayah ibu... maafkan abie..." Abie menangis dipelukan sang Ibu. Sambil terisak-isak, Ibu menenangkan Abie, melepas pelukannya , mengusap airmata Abie seraya berkata "Tidak apa-apa sayang, mari kita do'akan kakakmu baik baik saja ya"
       Esoknya dengan dalih mencari lauk untuk makan siang, Abie pergi menelusuri hutan mencari keberadaaan markas tentara Jepang di sekitar. Ia takut , jika ia jujur. Ibu takkan mengizinkannya mencari sang kakak karena membahayakan sekali jika hal itu terjadi. Selang 30 menit, ia melihat dekat jalan raya terdapat gubuk berukuran sedang dengan perlengkapan militer dan bendera Jepang berkibar disana. "Itu pasti markasnya, Kak? Tunggu Abie. Abie jemput kakak. Semoga tidak apa-apa. Bismillah, Allahu Akbar" Abie berjalan dengan tempo menuju gubuk itu. 
       Dengan pisau dan bendera merah putih terikat ditombaknya ia kan berjuang. Layaknya pahlawan yang berperang, tekadnya membara. Dimasuki nya gubuk itu dari belakang ,lalu mengintip. Hanya ada dua tentara yang berjaga disana.. dan ia terkejut, melihat sang kakak terikat lemas di pelepah pisang didalam gubuk itu. Abie makin semangat.
       "Yaaa Pagi Komandan" "Bala bantuan akan segera datang? Baiklah terima kasih komandan. Saya juga sudah kekurangan personil , personil kemarin semua tidak becus, tidak berguna semua. Kesal saya... mending mati saja mereka hahaha" ujar Kolonel sembari masih menelpon meghisap cerutu ditangannya. Tak lama, Abie menusukkan pisau kearah belakang kolonel... *buugh lalu memukul kepalanya dengan balok kayu hingga tak sadarkan diri bersimpah darah. Diambilnya pistol di meja, Abie menuju tempat dimana kakaknya ditahan.
       "Kak.... Sadar kak, ini aku Abie... gimana keadaan kakak? Sini Abie lepasin. Jangan di lawan" "Abie..... tolong kakak... cepet... huhuhuhu.. Abiee ka..kakk.. " ujar kakaknya masih menangis. Setelah lepas mereka bergegas keluar dari arah luar, Abie menyuruh Maisaroh untuk berlari terlebih dahulu karena ia ingin mengurus satu tentara lagi. Maisaroh mengangguk lalu kabur melalui pintu belakang , disusul Abie yang tak lama sudah diketahui oleh satu tentara lainnya. Adu tembak terjadi, tak lama Abie menang, lalu menyusul.
       Mereka Berlari ke arah lapang menuju pepohonan lebat di ujung sana. "terus ka... ayookk cepatt.. bala bantuan mereka akan datang nanti.. " teriak Abie dari kejauhan menyusul Maisaroh. Tak lama suara tembakan keras terdengar, Maisaroh menengok kebelakang, dilihatnya Abie tergeletak dengan kaki nya yang bersimpah darah. "cepet kaaa lariiiiii,, lariii cepaaattt" teriak Abie , Maisaroh paham lalu lanjut berlari menghilang diantara pepohonan. Abie menoleh, Bala Bantuan Jepang sudah datang dengan dua mobil militernya yang canggih.

       Abie Berdiri sekuat tenaga, menancapkan tombak dengan bendera merah putih bercampur darah jasad kolonel Jepang , lalu hormat. Dan berteriak dengan kencang "SAYA ABIE THOJOHADIKUSUMO, AKAN BERJUANG SAMPAI MATI DEMI KEMERDEKAAN INDONESIA. NEGERI SAYA TERCINTA" suara tembakan terdengar lagi, kali ini kaki Abie tak dapat berdiri lagi. " WALAUPUN RAGA INI SUDAH TAK DAPAT BERJUANG, NAMUN SEMANGAT PERJUANGAN AKAN TERUS TUMBUH BAGI SETIAP RAKYAT INDONESIA.... MERDEKKKAAAA MERRDEKAAA MERDEE...." belum selesai Abie berteriak , tembakan keras tepat mengenai jantung Abie. Abie tergeletak dibawah sang saka yang ia kibarkan bersama semangat perjuangan yang akan terus membara. Dalam batinnya ia berkata.. "Semoga Rakyat Indonesia akan terus berjuang menggapai kemerdekaan demi kemakmuran dan kesejahteraan negeri ini sampai mati"
Bersambung.......

Sabtu, 10 Agustus 2019

Syukur (Semesta Berkata)



Gerimis hujan basahi ibukota malam ini. Terlihat pria paruh baya berharap pada atap halte bus di seberang sana melindunginya. Malam ini juga dangannya belum habis. Sambil mengusap tetesan hujan yang sering kali dibuat terbang oleh sang angin, ia termenung. Terbayang senyum manis si bungsu yang berharap ia pulang secepatnya, membawakan robot-robotan keinginannya pagi tadi.

Istri dan dua anaknya sudah lama pergi. Bukan dipanggil sang illahi, namun pergi ketika ekonomi keluarga memaksa pria paruh baya itu bekerja lebih keras lagi. Mereka tak peduli. Selalu saja ingin hidup mewah, tega meninggalkan buah hati ( si bungsu) dan lelaki yang mencintainya sepenuh hati. Hanya untuk lelaki yang lebih kaya darinya, apapun yang mereka pinta langsung tersedia.

Malam semakin dingin, hujan semakin deras. Pria itu tak kuasa lagi menahan angin malam yang mulai menggerogoti tubuhnya. Sambil memeluk dinginnya malam, kepalanya menengadah tanganya merapatkan sela-sela jari seraya berkata "Ya Tuhanku, hanya kepadamulah aku berharap dan meminta pertolongan. Tolong bantu hamba tuk habiskan dagangan ini sebelum gelap menjadi pekat agar bisa pulang secepatnya melepas rindu bersama si bungsu anakku".

Tak lama kemudian, seorang anak muda berlari mendekati halte dengan tas selempang  sejengkal diatas kepalanya dan berhenti di depan pria paruh baya itu.

"Pak, baksonya pedas satu porsi ya..." ucap pemuda itu merebahkan tasnya lalu duduk tepat di sebelah kiri pria paruh baya itu sambil menatap layar ponsel yang sedari tadi bergetar dalam saku celananya.

"Baik mas..." jawabnya dengan penuh senyum sumringah, doanya terjabah.

"Sudah lama pak berjualan baksonya?  Kalau saja anak-anak kampus belum pada pulang saya bantu larisin dagangan bapak. Apalagi suasana hujan maunya makan yang berkuah hangat pula" jemari pemuda itu mematikan ponsel lalu mengambil semangkuk bola-bola daging yang ditemani kuah kaldu sapi hangat.

"Baru mas, baru beberapa bulan setelah saya ditipu oleh kerabat kerja saya sendiri" jawab pria itu menguatkan diri.

“Mohon bersabar ya pak.. itulah salah satu sifat manusia, rakus akan hal yang bersifat duniawi. Sampai lupa bahwa orang-orang sekitar jadi korban atas kerakusannya itu" ujar pemuda itu menenagkan hati si bapak penjual bakso itu.

" Ya begitulah mas. Kita harus legowo dan selalu bersyukur atas apa yang terjadi. Mungkin ini adalah ujian dari Tuhan untuk bapak" "kok jam segini baru pulang mas? habis mengerjakan tugas kuliah yang tak berujung itu ya? haha" canda pria paruh baya  dengan suara seakan melawan derunya hujan yang turun beramai-ramai.

"hehe, enggak pak. Habis jalan sama pacar. Kebetulan rumahnya dekat kampus sekalian mengantarnya pulang. Tadi sih baru gerimis, namun tiba-tiba deras dan menjebak saya duduk disini bersama bapak" jelas sang pemuda.

Sambil menyantap bakso, air matanya menetes ketika ia menatap kearah sang bapak yang sesekali mengelap gerobak pikulnya. Pemuda itu teringat akan sepuluh tahun silam, ketika sang ayahanda terbujur kaku di depan mata sepulangnya ia dari kegiatan clubbing bersama teman-temannya saat fajar menyingsing kala itu.

Tepukan di bahu pemuda itu menyadarkan lamunannya, "hujan mulai mereda ,mas" kata bapak penjual bakso. Ia tersadar bahwa hidup harus syukuri apapun adanya. "sudah pak, terima kasih" Kemudian menyerahkan mangkuk dan beberapa uang lembar lalu pergi menjauh. Dalam hatinya terucap ribuan terima kasih pada sang bapak yang telah memberikan pelajaran hidup tuk selalu bersyukur dalam keadaan apapun dan jangan menyia-nyiakan waktu yang ada.