Gemuruh langit bersautan bersama suara tembakan dari tiap sudut
negeri ini. Hampir 3 tahun sudah Jepang berkuasa, menjadikan Indonesia negeri
damai nan indah menjadi lapang penuh darah. Rakyat Indonesia sudah tentu haus
akan kemerdekaan, mereka jadikan merdeka ialah cita-cita besar bangsa
Indonesia. Dibekali dengan orang-orang berilmu pengetahuan dan tak luput
Kebesaran Tuhan, mereka yakin sebentar lagi Indonesia kan merdeka....
Sore
itu dentuman langit terdengar keras, disaat yang bersamaan Abie pun terkejut.
Ditengoklah burung-burung terbang dari arah rumahnya. Ia panik. Bergegas ia tuk
pulang dari pantai, membawa dua ikat ikan yang ia dapati tuk makan malamnya
nanti. Pikirannya tak karuan, ia khawatir jika suara tembakan itu berasal dari
rumahnya dan ternyata... dugaannya benar.
Abie
datang lalu mengumpat dibalik batu besar tak jauh dari rumahnya , Tentara
Jepang sedang menginvasi rumah darurat keluarganya, Ayahnya telah lama mati
dengan tragis memperjuangkan kemerdekaan ditangan Belanda. Tersisa Kakaknya beserta
ibu dan adiknya yang masih balita. Air mata Abie mengalir deras, matanya penuh
kebencian. Tangannya mengepal meninju batu besar didepannya ketika melihat
kakaknya dibawa oleh tentara Jepang. Ia tahu, jikalau ada wanita yang dibawa,
mereka akan menjadikannya pelampiasan nafsu bejat tentara-tentara bajing itu.
Sementara jikalau pria, kan ia lampiaskan kekesalannya dengan menganiaya tanpa
ampun. Abie menunduk, tak bisa berbuat apa-apa selain diam, diam dan diam.
"Setiap yang lemah akan ditindas, yang berani melawan akan ditebas. hahahahaha" ujar Kolonel Hamatsu Saida, Pimpinan perang Di Sragen, Jawa Tengah dengan bahasa indonesia nya masih kaku sambil tertawa lepas. " Aku ingin bawa wanita ini, kau setuju kan hei ibu tua jalang?"ujar kolonel menyuruh dua pengawal membawa Maisaroh,Kakak Abie. "kau manis juga, tapi lebih sexy wanita ini, ini anakmu? *plaak Berbeda jauh denganmu tau haha, kau sudah peyot." ujar kolonel kepada Ibu Abie sambil menampar pipi halus yang Abie amat cintai. Abie geram, tangannya mengepal lebih kencang.. "tolong jangan bawa anak saya, bawa saja saya tuan. Tolong jangan ganggu keluarga saya, biarkan saya ikut dengan tuan.. tapi tolong lepaskan anak saya" Ibu Abie menangis berlutut dibawah kaki kolonel bajing itu.
"Setiap yang lemah akan ditindas, yang berani melawan akan ditebas. hahahahaha" ujar Kolonel Hamatsu Saida, Pimpinan perang Di Sragen, Jawa Tengah dengan bahasa indonesia nya masih kaku sambil tertawa lepas. " Aku ingin bawa wanita ini, kau setuju kan hei ibu tua jalang?"ujar kolonel menyuruh dua pengawal membawa Maisaroh,Kakak Abie. "kau manis juga, tapi lebih sexy wanita ini, ini anakmu? *plaak Berbeda jauh denganmu tau haha, kau sudah peyot." ujar kolonel kepada Ibu Abie sambil menampar pipi halus yang Abie amat cintai. Abie geram, tangannya mengepal lebih kencang.. "tolong jangan bawa anak saya, bawa saja saya tuan. Tolong jangan ganggu keluarga saya, biarkan saya ikut dengan tuan.. tapi tolong lepaskan anak saya" Ibu Abie menangis berlutut dibawah kaki kolonel bajing itu.
Tak
hiraukan penawaran Ibu, tentara Jepang dengan cepat membawa Maisaroh pergi
menjauhi mereka. Ibu menangis kencang memeluk Jaka anak bungsunya. Abie berlari
menghampiri mereka, memeluk sang Ibu. "Ibu... maafkan Abie. Abie belum
berani melindungi ibu dan kakak. Abie gak bisa jadi anak laki-laki seperti ayah
ibu... maafkan abie..." Abie menangis dipelukan sang Ibu. Sambil
terisak-isak, Ibu menenangkan Abie, melepas pelukannya , mengusap airmata Abie
seraya berkata "Tidak apa-apa sayang, mari kita do'akan kakakmu baik baik
saja ya"
Esoknya
dengan dalih mencari lauk untuk makan siang, Abie pergi menelusuri hutan
mencari keberadaaan markas tentara Jepang di sekitar. Ia takut , jika ia jujur.
Ibu takkan mengizinkannya mencari sang kakak karena membahayakan sekali jika
hal itu terjadi. Selang 30 menit, ia melihat dekat jalan raya terdapat gubuk
berukuran sedang dengan perlengkapan militer dan bendera Jepang berkibar
disana. "Itu pasti markasnya, Kak? Tunggu Abie. Abie jemput kakak. Semoga
tidak apa-apa. Bismillah, Allahu Akbar" Abie berjalan dengan tempo menuju
gubuk itu.
Dengan pisau dan bendera merah putih terikat ditombaknya ia kan berjuang.
Layaknya pahlawan yang berperang, tekadnya membara. Dimasuki nya gubuk itu dari
belakang ,lalu mengintip. Hanya ada dua tentara yang berjaga disana.. dan ia
terkejut, melihat sang kakak terikat lemas di pelepah pisang didalam gubuk itu.
Abie makin semangat.
"Yaaa
Pagi Komandan" "Bala bantuan akan segera datang? Baiklah terima kasih
komandan. Saya juga sudah kekurangan personil , personil kemarin semua tidak
becus, tidak berguna semua. Kesal saya... mending mati saja mereka hahaha"
ujar Kolonel sembari masih menelpon meghisap cerutu ditangannya. Tak lama, Abie
menusukkan pisau kearah belakang kolonel... *buugh lalu memukul kepalanya dengan
balok kayu hingga tak sadarkan diri bersimpah darah. Diambilnya pistol di meja,
Abie menuju tempat dimana kakaknya ditahan.
"Kak....
Sadar kak, ini aku Abie... gimana keadaan kakak? Sini Abie lepasin. Jangan di
lawan" "Abie..... tolong kakak... cepet... huhuhuhu.. Abiee
ka..kakk.. " ujar kakaknya masih menangis. Setelah lepas mereka bergegas
keluar dari arah luar, Abie menyuruh Maisaroh untuk berlari terlebih dahulu
karena ia ingin mengurus satu tentara lagi. Maisaroh mengangguk lalu kabur
melalui pintu belakang , disusul Abie yang tak lama sudah diketahui oleh satu
tentara lainnya. Adu tembak terjadi, tak lama Abie menang, lalu menyusul.
Mereka
Berlari ke arah lapang menuju pepohonan lebat di ujung sana. "terus ka...
ayookk cepatt.. bala bantuan mereka akan datang nanti.. " teriak Abie dari
kejauhan menyusul Maisaroh. Tak lama suara tembakan keras terdengar, Maisaroh
menengok kebelakang, dilihatnya Abie tergeletak dengan kaki nya yang bersimpah
darah. "cepet kaaa lariiiiii,, lariii cepaaattt" teriak Abie , Maisaroh
paham lalu lanjut berlari menghilang diantara pepohonan. Abie menoleh, Bala
Bantuan Jepang sudah datang dengan dua mobil militernya yang canggih.
Abie Berdiri sekuat tenaga, menancapkan tombak dengan bendera merah putih bercampur darah jasad kolonel Jepang , lalu hormat. Dan berteriak dengan kencang "SAYA ABIE THOJOHADIKUSUMO, AKAN BERJUANG SAMPAI MATI DEMI KEMERDEKAAN INDONESIA. NEGERI SAYA TERCINTA" suara tembakan terdengar lagi, kali ini kaki Abie tak dapat berdiri lagi. " WALAUPUN RAGA INI SUDAH TAK DAPAT BERJUANG, NAMUN SEMANGAT PERJUANGAN AKAN TERUS TUMBUH BAGI SETIAP RAKYAT INDONESIA.... MERDEKKKAAAA MERRDEKAAA MERDEE...." belum selesai Abie berteriak , tembakan keras tepat mengenai jantung Abie. Abie tergeletak dibawah sang saka yang ia kibarkan bersama semangat perjuangan yang akan terus membara. Dalam batinnya ia berkata.. "Semoga Rakyat Indonesia akan terus berjuang menggapai kemerdekaan demi kemakmuran dan kesejahteraan negeri ini sampai mati"
Bersambung.......

EmoticonEmoticon