Jumat, 16 Agustus 2019

Merdeka Atau Mati


       Gemuruh langit bersautan bersama suara tembakan dari tiap sudut negeri ini. Hampir 3 tahun sudah Jepang berkuasa, menjadikan Indonesia negeri damai nan indah menjadi lapang penuh darah. Rakyat Indonesia sudah tentu haus akan kemerdekaan, mereka jadikan merdeka ialah cita-cita besar bangsa Indonesia. Dibekali dengan orang-orang berilmu pengetahuan dan tak luput Kebesaran Tuhan, mereka yakin sebentar lagi Indonesia kan merdeka....
       Sore itu dentuman langit terdengar keras, disaat yang bersamaan Abie pun terkejut. Ditengoklah burung-burung terbang dari arah rumahnya. Ia panik. Bergegas ia tuk pulang dari pantai, membawa dua ikat ikan yang ia dapati tuk makan malamnya nanti. Pikirannya tak karuan, ia khawatir jika suara tembakan itu berasal dari rumahnya dan ternyata... dugaannya benar.
       Abie datang lalu mengumpat dibalik batu besar tak jauh dari rumahnya , Tentara Jepang sedang menginvasi rumah darurat keluarganya, Ayahnya telah lama mati dengan tragis memperjuangkan kemerdekaan ditangan Belanda. Tersisa Kakaknya beserta ibu dan adiknya yang masih balita. Air mata Abie mengalir deras, matanya penuh kebencian. Tangannya mengepal meninju batu besar didepannya ketika melihat kakaknya dibawa oleh tentara Jepang. Ia tahu, jikalau ada wanita yang dibawa, mereka akan menjadikannya pelampiasan nafsu bejat tentara-tentara bajing itu. Sementara jikalau pria, kan ia lampiaskan kekesalannya dengan menganiaya tanpa ampun. Abie menunduk, tak bisa berbuat apa-apa selain diam, diam dan diam.

       "Setiap yang lemah akan ditindas, yang berani melawan akan ditebas. hahahahaha" ujar Kolonel Hamatsu Saida, Pimpinan perang Di Sragen, Jawa Tengah dengan bahasa indonesia nya masih kaku sambil tertawa lepas. " Aku ingin bawa wanita ini, kau setuju kan hei ibu tua jalang?"ujar kolonel menyuruh dua pengawal membawa Maisaroh,Kakak Abie. "kau manis juga, tapi lebih sexy wanita ini, ini anakmu? *plaak Berbeda jauh denganmu tau haha, kau sudah peyot." ujar kolonel kepada Ibu Abie sambil menampar pipi halus yang Abie amat cintai. Abie geram, tangannya mengepal lebih kencang.. "tolong jangan bawa anak saya, bawa saja saya tuan. Tolong jangan ganggu keluarga saya, biarkan saya ikut dengan tuan.. tapi tolong lepaskan anak saya" Ibu Abie menangis berlutut dibawah kaki kolonel bajing itu.
       Tak hiraukan penawaran Ibu, tentara Jepang dengan cepat membawa Maisaroh pergi menjauhi mereka. Ibu menangis kencang memeluk Jaka anak bungsunya. Abie berlari menghampiri mereka, memeluk sang Ibu. "Ibu... maafkan Abie. Abie belum berani melindungi ibu dan kakak. Abie gak bisa jadi anak laki-laki seperti ayah ibu... maafkan abie..." Abie menangis dipelukan sang Ibu. Sambil terisak-isak, Ibu menenangkan Abie, melepas pelukannya , mengusap airmata Abie seraya berkata "Tidak apa-apa sayang, mari kita do'akan kakakmu baik baik saja ya"
       Esoknya dengan dalih mencari lauk untuk makan siang, Abie pergi menelusuri hutan mencari keberadaaan markas tentara Jepang di sekitar. Ia takut , jika ia jujur. Ibu takkan mengizinkannya mencari sang kakak karena membahayakan sekali jika hal itu terjadi. Selang 30 menit, ia melihat dekat jalan raya terdapat gubuk berukuran sedang dengan perlengkapan militer dan bendera Jepang berkibar disana. "Itu pasti markasnya, Kak? Tunggu Abie. Abie jemput kakak. Semoga tidak apa-apa. Bismillah, Allahu Akbar" Abie berjalan dengan tempo menuju gubuk itu. 
       Dengan pisau dan bendera merah putih terikat ditombaknya ia kan berjuang. Layaknya pahlawan yang berperang, tekadnya membara. Dimasuki nya gubuk itu dari belakang ,lalu mengintip. Hanya ada dua tentara yang berjaga disana.. dan ia terkejut, melihat sang kakak terikat lemas di pelepah pisang didalam gubuk itu. Abie makin semangat.
       "Yaaa Pagi Komandan" "Bala bantuan akan segera datang? Baiklah terima kasih komandan. Saya juga sudah kekurangan personil , personil kemarin semua tidak becus, tidak berguna semua. Kesal saya... mending mati saja mereka hahaha" ujar Kolonel sembari masih menelpon meghisap cerutu ditangannya. Tak lama, Abie menusukkan pisau kearah belakang kolonel... *buugh lalu memukul kepalanya dengan balok kayu hingga tak sadarkan diri bersimpah darah. Diambilnya pistol di meja, Abie menuju tempat dimana kakaknya ditahan.
       "Kak.... Sadar kak, ini aku Abie... gimana keadaan kakak? Sini Abie lepasin. Jangan di lawan" "Abie..... tolong kakak... cepet... huhuhuhu.. Abiee ka..kakk.. " ujar kakaknya masih menangis. Setelah lepas mereka bergegas keluar dari arah luar, Abie menyuruh Maisaroh untuk berlari terlebih dahulu karena ia ingin mengurus satu tentara lagi. Maisaroh mengangguk lalu kabur melalui pintu belakang , disusul Abie yang tak lama sudah diketahui oleh satu tentara lainnya. Adu tembak terjadi, tak lama Abie menang, lalu menyusul.
       Mereka Berlari ke arah lapang menuju pepohonan lebat di ujung sana. "terus ka... ayookk cepatt.. bala bantuan mereka akan datang nanti.. " teriak Abie dari kejauhan menyusul Maisaroh. Tak lama suara tembakan keras terdengar, Maisaroh menengok kebelakang, dilihatnya Abie tergeletak dengan kaki nya yang bersimpah darah. "cepet kaaa lariiiiii,, lariii cepaaattt" teriak Abie , Maisaroh paham lalu lanjut berlari menghilang diantara pepohonan. Abie menoleh, Bala Bantuan Jepang sudah datang dengan dua mobil militernya yang canggih.

       Abie Berdiri sekuat tenaga, menancapkan tombak dengan bendera merah putih bercampur darah jasad kolonel Jepang , lalu hormat. Dan berteriak dengan kencang "SAYA ABIE THOJOHADIKUSUMO, AKAN BERJUANG SAMPAI MATI DEMI KEMERDEKAAN INDONESIA. NEGERI SAYA TERCINTA" suara tembakan terdengar lagi, kali ini kaki Abie tak dapat berdiri lagi. " WALAUPUN RAGA INI SUDAH TAK DAPAT BERJUANG, NAMUN SEMANGAT PERJUANGAN AKAN TERUS TUMBUH BAGI SETIAP RAKYAT INDONESIA.... MERDEKKKAAAA MERRDEKAAA MERDEE...." belum selesai Abie berteriak , tembakan keras tepat mengenai jantung Abie. Abie tergeletak dibawah sang saka yang ia kibarkan bersama semangat perjuangan yang akan terus membara. Dalam batinnya ia berkata.. "Semoga Rakyat Indonesia akan terus berjuang menggapai kemerdekaan demi kemakmuran dan kesejahteraan negeri ini sampai mati"
Bersambung.......


EmoticonEmoticon