Rabu, 22 Juli 2020

Syukur (Semesta Berkata) Eps.2



Dalam ricik gerimis, pria paruh baya itu melanjutkan perjalanan menjajakan dagangannya.  "Took torok tok tok tok , sooo baksoo" teriak pria itu sambil memukul pentongan di tangan kirinya. Terompahnya berkejaran  menyisir rapih jalanan yang mulai gelap nan sepi, matanya sudah tak kuat lagi menahan kantuk yang makin menjadi.  Tetiba saja mobil melaju kencang dari arah kiri nya ketika ia hendak menyebrang perbatasan dan "ciiiiittttttt... guubrakk.." suara tabrakan tak terhentikan  pria itu terlempar beberapa ratus meter dari gerobak nya yang tergeletak tumpah di depan mobil itu. Dan sosok wanita cukup tua dengan penuh barang mewah di sekujur tubuhnya keluar dari mobil tsb.


"Haduhh... lecet nih Expander saya.. hei kalo jalan liat liat dong pak tua. seenak saja main nyebrang gak ngengok kanan kiri. untung mobil saya tidak kenapa kenapa nih. kalo sampe servicenya mahal , saya bakal tun..." belum sempat iblis itu mengoceh, ia terkejut bahwa ia sedang mengomelin mantan suami nya sendiri. Tanpa banyak basa basi lagi, wanita itu buru-buru masuk mobil dan tancap gas meninggalkan pria itu dngn gerobaknya yang masih tersungkur. Pria itu hanya tersenyum haru seraya batinnya berkata "Terimakasih ya tuhan, engkau mendengar doaku slama ini. Semoga ia sadar betapa aku amat mencintainya terlebih pada darah dagingnya yang masih butuh  kasih sayangnya". Tak lama ia bangkit dan membereskan semuanya yang jatuh berantakan lalu beranjak pulang.

Pak Henry biasa disebut pakde disekitar rumahnya, sesuai panggilannya pria paruh baya itu sudah berkepala empat dengan 4 orang anak bersama istrinya yang terakhir pergi meninggalkannya empat tahun silam dengan si bungsu. Anak yang tak berdosa itu harus rela kehilangan kasih sayang ibu nya sedini mungkin. "Ah sudahlah toh hidup adalah perjalanan yang harus kita jalanin dengan penuh rasa syukur dan semangat. Akan aku buktikan si Bungsu dapat tumbuh menjadi anak yang sopan santun dan berhati mulia tanpa kasih sayang ibunya" gerutu Henry berbicara pada bohlam yang sudah lama mati dengan lilin yang turut bersedih membakar habis tubuhnya perlahan.


Hari demi hari Henry lakukan demi si buah hati, menghidupi dirinya dan si bungsu yang semakin besar dan pintar. Tak jarang bungsu jadi bahan bully an karena teman-teman satu kelasnya melihat ayahnya sedang memulung sambil berjualan bakso depan sekolahnya, bungsu tetap bangga. Dilihatnya ayah nya dari kejauhan berlari dan jatuh dipelukan ayahnya sambil tertawa lepas. " Hari ini ayah dapat rezeki lebih, yukk kita beli robot-robotan yang kamu mau" ucap henry menatap bahagia Arie, si bungsu. "Wah benar itu abi? asikk horee beli robot-robotan yang keren ituu ayo abi cepet gasabar nih" teriak Arie senang.

Dua puluh tahun kemudian...

" Baik bapak- bapak, rapat kita telah selesai. Silahkan dapat ke ruangan masing - masing dan kembali bekerja" ujar Pak Hendrik , Direktur Utama Elang Indonesia. Maskapai nomor satu di Indonesia. "Untuk Pak Arie, Selamat atas kenaikan jabatan nya sebagai Kepala Divisi Penerbangannya Pak Arie" ujar nya lagi. "Terimakasih Pak Hendrik, saya pamit pulang " ujar Arie.

Mobil BMW S Class  melaju di tengah ramainya ibukota, menyelinap diantara mobil - mobil disekitarnya lalu berhenti disebuah tempat pemakaman umum yang tak jauh dari lokasi kantornya. Sang asissten membukakan pintu mobil lalu membuka payung , dengan gagah Arie merapihkan jasnya lalu berjalan menuju tempat peristirahatan sang abi tercinta.

"Abi, Terimakasih atas segala jerihpayahmu yang kini aku rindukan akan kehadiran dirim, abi. Lihatlah abi aku sudah sukses sekarang berkat semua pengorbananmu. Tolong bangun abi... tolongg... banguunn.... abiiiiiii" Teriak Arie sambil menangis melepaskan semua kerinduan pada ayahnya yang telah tiada, beliau meninggalkannya tepat sehari sebelum hari pengumuman wisuda nya.

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon