Dalam ricik gerimis, pria paruh baya itu melanjutkan perjalanan
menjajakan dagangannya. "Took torok
tok tok tok , sooo baksoo" teriak pria itu sambil memukul pentongan di
tangan kirinya. Terompahnya berkejaran menyisir
rapih jalanan yang mulai gelap nan sepi, matanya sudah tak kuat lagi menahan
kantuk yang makin menjadi. Tetiba saja
mobil melaju kencang dari arah kiri nya ketika ia hendak menyebrang perbatasan
dan "ciiiiittttttt... guubrakk.." suara tabrakan tak terhentikan pria itu terlempar beberapa ratus meter dari
gerobak nya yang tergeletak tumpah di depan mobil itu. Dan sosok wanita cukup
tua dengan penuh barang mewah di sekujur tubuhnya keluar dari mobil tsb.
"Haduhh... lecet nih Expander saya.. hei kalo jalan liat liat
dong pak tua. seenak saja main nyebrang gak ngengok kanan kiri. untung mobil
saya tidak kenapa kenapa nih. kalo sampe servicenya mahal , saya bakal
tun..." belum sempat iblis itu mengoceh, ia terkejut bahwa ia sedang
mengomelin mantan suami nya sendiri. Tanpa banyak basa basi lagi, wanita itu
buru-buru masuk mobil dan tancap gas meninggalkan pria itu dngn gerobaknya yang
masih tersungkur. Pria itu hanya tersenyum haru seraya batinnya berkata
"Terimakasih ya tuhan, engkau mendengar doaku slama ini. Semoga ia sadar
betapa aku amat mencintainya terlebih pada darah dagingnya yang masih
butuh kasih sayangnya". Tak lama ia
bangkit dan membereskan semuanya yang jatuh berantakan lalu beranjak pulang.
Pak Henry biasa disebut pakde disekitar rumahnya, sesuai
panggilannya pria paruh baya itu sudah berkepala empat dengan 4 orang anak
bersama istrinya yang terakhir pergi meninggalkannya empat tahun silam dengan
si bungsu. Anak yang tak berdosa itu harus rela kehilangan kasih sayang ibu nya
sedini mungkin. "Ah sudahlah toh hidup adalah perjalanan yang harus kita
jalanin dengan penuh rasa syukur dan semangat. Akan aku buktikan si Bungsu
dapat tumbuh menjadi anak yang sopan santun dan berhati mulia tanpa kasih
sayang ibunya" gerutu Henry berbicara pada bohlam yang sudah lama mati dengan
lilin yang turut bersedih membakar habis tubuhnya perlahan.
Hari demi hari Henry lakukan demi si buah hati, menghidupi dirinya
dan si bungsu yang semakin besar dan pintar. Tak jarang bungsu jadi bahan bully
an karena teman-teman satu kelasnya melihat ayahnya sedang memulung sambil
berjualan bakso depan sekolahnya, bungsu tetap bangga. Dilihatnya ayah nya dari
kejauhan berlari dan jatuh dipelukan ayahnya sambil tertawa lepas. " Hari
ini ayah dapat rezeki lebih, yukk kita beli robot-robotan yang kamu mau"
ucap henry menatap bahagia Arie, si bungsu. "Wah benar itu abi? asikk
horee beli robot-robotan yang keren ituu ayo abi cepet gasabar nih" teriak
Arie senang.
Dua
puluh tahun kemudian...
" Baik bapak- bapak, rapat kita telah selesai. Silahkan dapat
ke ruangan masing - masing dan kembali bekerja" ujar Pak Hendrik ,
Direktur Utama Elang Indonesia. Maskapai nomor satu di Indonesia. "Untuk
Pak Arie, Selamat atas kenaikan jabatan nya sebagai Kepala Divisi
Penerbangannya Pak Arie" ujar nya lagi. "Terimakasih Pak Hendrik,
saya pamit pulang " ujar Arie.
Mobil BMW S Class melaju di
tengah ramainya ibukota, menyelinap diantara mobil - mobil disekitarnya lalu
berhenti disebuah tempat pemakaman umum yang tak jauh dari lokasi kantornya.
Sang asissten membukakan pintu mobil lalu membuka payung , dengan gagah Arie
merapihkan jasnya lalu berjalan menuju tempat peristirahatan sang abi tercinta.
"Abi, Terimakasih atas segala jerihpayahmu yang kini aku
rindukan akan kehadiran dirim, abi. Lihatlah abi aku sudah sukses sekarang
berkat semua pengorbananmu. Tolong bangun abi... tolongg... banguunn.... abiiiiiii"
Teriak Arie sambil menangis melepaskan semua kerinduan pada ayahnya yang telah
tiada, beliau meninggalkannya tepat sehari sebelum hari pengumuman wisuda nya.

EmoticonEmoticon