Oktober 2010
Sebenarnya Arjuna menyimpan perasaan sejak pertemuan pertama dengan Adiba , hari ini ia berniat untuk menyatakannya. Diseberang matanya, tiba-tiba Adiba menoleh dengan senyum khasnya.
“lampu hijau menyala” batinnya berfikir kalau sang bidadari menurutnya juga punya perasaan yang sama. Dengan penuh kepercayaan diri, ia hampiri Adiba menggengam bunga mawar dan coklat silverqueen menempel pada tangkainya.
“Adiba, lopyu goceng. Mau gak jadi pacar gue? Sejak bunga indah di taman waktu itu gue petik dan gue pasang diatas teliga lu, bunga itu ibarat hati gue yang udah lu curi.” Ujarnya ,tak lama keringat dingin mulai bercucuran.
“ Selama aku kenal kamu, kamu itu orangnya baik lucu pula. Aku juga suka sama kamu, iya aku mau jadi pacar kamu. Tapi....” jawabnya, seketika raut wajahnya murung lalu menunduk lemas menutupi wajahnya dengan tangan.
“ Tapi kenapa?” “bukankah kita punya perasaan yang sama?” tanya Arjuna penuh heran. “bukan itu Arjuna, kamu lihat kondisi fisik aku. Aku cacat Arjuna, aku ga punya kaki. Aku gabisa jalan kayak wanita lain, aku... aku....” jawab Adiba dengan air mata mengalir basahi tangan yang lembut itu.
Arjuna heran, lalu dengan sigapnya memeluk, Adiba kaget. Selang beberapa detik, Arjuna melepas pelukannya, lalu setengah duduk di hadapannya. “Adiba sayang, tak usah ragu denganku. Aku suka sama kamu. itu karena hatimu dan sifatmu. Aku suka senyummu, matamu, nada bicaramu, semua hal tentang dirimu aku suka. Bahkan kau tak mandi satu tahun pun aku tetap suka” tangannya mengelus rambut Adiba dengan lembut, agak lama. Adiba tersenyum.
“ Okeyy kamu senyum artinya kamu nerima aku, yess.. ini hari besar bagi ku. Pulang sekolah kita harus kita rayain, fix nanti pulang bareng aku. Kita naik odong-odong mang ujang. Hahaha” ujar Arjuna senang, Adiba hanya diam sambil tersenyum. Hari ini mereka resmi berpasangan.
Sebenarnya Arjuna menyimpan perasaan sejak pertemuan pertama dengan Adiba , hari ini ia berniat untuk menyatakannya. Diseberang matanya, tiba-tiba Adiba menoleh dengan senyum khasnya.
“lampu hijau menyala” batinnya berfikir kalau sang bidadari menurutnya juga punya perasaan yang sama. Dengan penuh kepercayaan diri, ia hampiri Adiba menggengam bunga mawar dan coklat silverqueen menempel pada tangkainya.
“Adiba, lopyu goceng. Mau gak jadi pacar gue? Sejak bunga indah di taman waktu itu gue petik dan gue pasang diatas teliga lu, bunga itu ibarat hati gue yang udah lu curi.” Ujarnya ,tak lama keringat dingin mulai bercucuran.
“ Selama aku kenal kamu, kamu itu orangnya baik lucu pula. Aku juga suka sama kamu, iya aku mau jadi pacar kamu. Tapi....” jawabnya, seketika raut wajahnya murung lalu menunduk lemas menutupi wajahnya dengan tangan.
“ Tapi kenapa?” “bukankah kita punya perasaan yang sama?” tanya Arjuna penuh heran. “bukan itu Arjuna, kamu lihat kondisi fisik aku. Aku cacat Arjuna, aku ga punya kaki. Aku gabisa jalan kayak wanita lain, aku... aku....” jawab Adiba dengan air mata mengalir basahi tangan yang lembut itu.
Arjuna heran, lalu dengan sigapnya memeluk, Adiba kaget. Selang beberapa detik, Arjuna melepas pelukannya, lalu setengah duduk di hadapannya. “Adiba sayang, tak usah ragu denganku. Aku suka sama kamu. itu karena hatimu dan sifatmu. Aku suka senyummu, matamu, nada bicaramu, semua hal tentang dirimu aku suka. Bahkan kau tak mandi satu tahun pun aku tetap suka” tangannya mengelus rambut Adiba dengan lembut, agak lama. Adiba tersenyum.
“ Okeyy kamu senyum artinya kamu nerima aku, yess.. ini hari besar bagi ku. Pulang sekolah kita harus kita rayain, fix nanti pulang bareng aku. Kita naik odong-odong mang ujang. Hahaha” ujar Arjuna senang, Adiba hanya diam sambil tersenyum. Hari ini mereka resmi berpasangan.
Bersambung......

EmoticonEmoticon